Senin, 25 Februari 2013

PLAK

0komentar
PLAK! Gue merasa tertampar lembut tapi sakitnya minta ampun. Ceritanya, dari kemarin sore gue "ngambek" sama ortu karena proposal kenaikan uang saku ditolak. Buusseeet childish banget gue gara-gara begituan sampe ngambek, delete contact nyokap segala pula. Yayaya, terserah deh apa kata pembaca, namanya juga ngambek, anak pula. Aksi ngambek childish ala mahasiswa gue ini tiba-tiba berhenti dengan cara yang indah #tsaah. Berawal dari stalking account junior (yaudah sih fine, kepo) masuk web ini itu dan sampailah gue ke tumblr-nya rara avis or rara sekar. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, gue percaya sama ungkapan itu.

Sekolah Kita http://sekolahkitarumpin.wordpress.com dengan motto "sebab tempat adalah sekolah kita" menyadarkan gue "lagi" supaya bersyukur atas apa yang gue dapatkan selama hidup karena jauh diluar sana masih banyak saudara kita yang bernasib lebih memprihatinkan. Waktu ngebaca artikel-artikel diblog sekolah kita, apa yaa.. terus terang gue tersentuh sekaligus ada rasa marah campur aduk jadi satu. Di tahun 2013, dimana anak-anak gaul pada main blackberry, psp and others gadgets tapi disana, di Kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, yang jalanan aspal aja ga ada (kampret bener nih Pemkot or Pemda or Pemerintah negara ini) anak-anak disana jauh banget hidupnya dibanding kita-kita. Bersyukur, itu adalah pelajaran yang gue dapat dari ngebuka blognya sekolah kita plus menyadarkan kalo emang bener peduli sama kita, caranya itu dengan peduli sama diri sendiri dulu. Karena setelah lo bisa peduli sama diri sendiri lalu peduli dengan sekitar, dijamin Yang Di Atas pasti kasih lo "lebih" dari apa yang lo minta.

Sekarang gue belum bisa bantu banyak buat sekolah kita di Bogor sana, sekarang gue cuma bisa bantu via blog ini dengan ngeshare trus ngetweet juga, tapi gue janji bakal donasi semampu gue buat mereka. And gue salut buat pendiri, pengajar serta donatur yang udah setia bantuin Sekolah Kita. *tepuk tangan*
Well, segitu dulu buat malem ini. Anw, kali penasaran tentang Sekolah Kita, lu cukup klik link yang diparagraf atas trus bakal langsung ke blog resminya Sekolah Kita. Jangan urungkan niat buat ngeshare, karena dengan ngeshare aja secara ga langsung kita bantu mereka. So.. Lets klik, guys!

Minggu, 24 Februari 2013

Agak Ruwet

0komentar
Kebahagian orang tua udah pasti kebahagiaan anak. Tapi apa sebaliknya? Harus diakui kalo seorang anak pada umumnya pasti bakal ngelakuin apa aja demi kebahagian orang tua bahkan merelakan kebahagiannya sendiri, bener ga? Mind set seperti ini sulit banget untuk diubah, bray. Kenapa? Ya, karena selagi title "anak" dan masih "minta" sama orang tua hukumnya kayak hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang berkuasa. Gue nulis begini bukan berarti benci atau ga bersyukur sama keadaan keluarga bahkan orang tua gue. Disini gue pure mau ngeshare sudut pandang seorang anak yang bisa dikatakan ngorbanin kebahagian sendiri demi mereka. Salah? Kagak. Dosa? Cuma Tuhan yang berhak nilai tulisan ini tergolong dosa atau engga.

Langsung aja, jadi waktu kelas 3 SMA kemarin (ok, kemarinnya itu 3 tahun lalu) gue emang ada niat pure mau jadi dokter. Tanpa ngeliat si bokap seorang dokter. Kebayang ga gimana anak SMA yang ngerasa udah punya bayangan lulus SMA lanjut kemana, eeciyee gaya. Sayangnya, Tuhan berkata lain. Well, gue emang kuliah di kedokteran saat ini, tapi swasta, and that means tidak seperti rencana awal apalagi rencana cadangan. Biaya medical school selalu "WOW" dibanding jurusan apapun meski jurusan tersebut udah pake embel-embel international segala. Ga percaya? Yakin? Search sendiri deh berapa jumlah biaya buat kedokteran (Eh kenapa jadi curcol ini). Karena kegagalan gue masuk PTN di Kota Pahlawan, rencana cadangannya adalah mau ambil kuliah jurusan fotografi daripada duitnya dipake biayain masuk PTS (endingnya PTS juga and oh God andai waktu bisa diputar lagi). Kenapa fotografi? Seperti kata Prof. Gavino a.k.a dosennya tante @TrinityTraveler, "Follow your passion and succes will follow you" Passion gue yang masih bertahan sampe detik ini, yaitu fotografi. Ternyata, passion gue ini masih lemah di mata Tuhan serta orang tua. Mereka meremehkan passion gue ini,  "mau makan apa kalo jadi fotografer?" mereka ga mau bener-bener dengerin suara hati gue tentang how adore me bout photography. Gimana gue jatuh cintanya tiap denger bunyi "klik", terpesonanya dengan keindahan, gimana tertantangnya buat ngelukis pake cahaya dan merasa hebatnya bisa menghentikan waktu meski cuma sedetik apalagi sampe bisa ngeshare emosi pada saat itu. Seninya dapet lah!

Balik lagi ke konsep kebahagiaan orang tua udah pasti kebahagiaan anak otomatis jadi tanggung jawab serta hukum wajib sang anak. Maka trapped me right here. Maret besok gue resmi masuk semester 6, semester klinis, sedangkan 3/4 hati ini ga bisa bohong kalo passion gue ke fotografi masih ada, masih membara. Gue selalu iri sama mereka atau kalian yang punya orang tua mau ngesupport passion kalian, lah gue? Perih. Bukan berarti ga bersyukur lho.. bukan. 

Tuhan selalu bersama anak yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi orang tua kan? *tiba-tiba galau* The point is how long I can survive from here. Huuaaahhh. Ada tuh kata orang-orang atau kata di google atau darimana, inti kalimatnya begini, kedokteran itu adalah perpaduan ilmu pengetahuan dan seni. Trus.. Dokter itu adalah seniman. Just two words, SUMPE LO?! Karena sampe detik ini, gue belum nemuin dimana seninya menjadi dokter. Ga nemu tuh seni yang dimaksud waktu bedah kadaver atau seni ngeliat gambar-gambar mikroskop, yang ada maah.. seni adu ga ketahuan nyontek doang. Mungkin nanti, atau kapan entah kapan gue bakal nemuin si seni itu. Haaiish.. Seandainya kata Prof. Gavino itu bener, maka 85% gue bakal sulit ketemu "succes" *jongkok dipojokan* 
Sekedar saran untuk yang masih punya kesempatan, eem.. perjuangkan passion-mu itu. Karena akan menyenangkan apabila kamu terlibat dengan hal-hal yang kamu sukai sama kayak pacaran #eh


Have a nice life everybody!

Kamis, 21 Februari 2013

0komentar
Setiap langkah hari keluar dari pintu
pikiranku tetap tertuju pada satu
Betapa sulitnya melewatkan kamu yang sekeras batu
melihat kamu disana, aku hanya mampu menggerutu
sambil menghitung waktu

Rindu ini kian berat hingga pekat
Kasih ini tak mampu bertaat
Mereka berdua sepakat saling berpahat
Terpasang topeng jahat meski hanya sesaat
Terjatuh aku karena kamu, hilang lalu tersesat

Kamu yang berkhianat, pantas menyebutku seorang jahat?
bukanpengendarabrutal.dwikamaswari. Diberdayakan oleh Blogger.
 

it's my long drive © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates